Tuesday, January 9, 2018

FILM #1: The Greatest Showman

Tahun lalu, berdasarkan rekaman jejak di Letterboxd sudah 56 film (ditambah dua film pendek!) yang ditonton di tahun 2017. Dengan niatan sama untuk tetep rajin nonton di tahun ini, akhirnya aku mutusin buat mulai menulis movie review atau ulasan film di blog karena ngerasa kurang sreg aja nulis panjang di Letterboxd. Ulasannya sendiri sih nggak terlalu teknis, murni dari kesan pribadi aja. Mungkin film yang dianggap bagus banget sama kritikus film bisa aja ngebosenin buat aku pribadi, e.g. Dunkirk, The Blade Runner 2049, dll. Tapi ya pingin aja nambahin tulisan-tulisan yang menunjang hobi nonton ini hehe. Nah, pas banget di hari kedua tahun 2018 aku dan keluarga nonton The Greatest Showman yang diperankan oleh Hugh Jackman, Michelle Williams, Zac Efron dan Zendaya diantara pemeran-pemeran lainnya.


Kalau diliat dari trailer-nya, premis filmnya jelas: karakter yang diperanin Hugh Jackman yang bernama Phineas Taylor Barnum ini ngebuka sirkus, dimana sirkus ini dibintangi oleh orang-orang dengan karakter fisik unik dan somewhat typical circus -- entah karena sejarahnya dimulai oleh si P.T. Barnum sendiri atau untuk tujuan agar film lebih familiar di mata masyarakat, aku juga gak yakin. Intinya tapi di trailernya terlihat ada sirkus, ada karakternya Michelle Williams yang bakal berperan jadi kekasihnya si pemeran utama, ada Zac Efron yang lagi curi-curi pandang ke Zendaya, terus ada adegan kebakaran yang menurutku spoiler banget sih. Trailer-nya diiringi oleh original soundtrack berjudul This Is Me - yang menurutku adalah lagu terbaik di film ini.

**Ulasan ini berikut spoiler film, lanjut membaca dengan resiko sendiri ya! Hehe.**


Awal mula film menceritakan kisah P.T. Barnum, anak seorang penjahit yang temenan sama Charity Hallet yang ceritanya anak orang kaya gitu lah. Mereka temenan deket banget walaupun ditentang sama ayahnya Charity ini. Dasar batu, walaupun Charity udah dikirim ke boarding school sama orangtuanya, mereka tetep sering komunikasi melalui surat. Lagu "A Million Dreams" melantun dan dua pemeran Barnum dan Charity muda pun mulai bernyanyi dan bukannya bermaksud nyinyir tapi ini lipsync yang sangat sangat tidak meyakinkan. Jujur agak males nontoninnya sampai akhirnya scene berlanjut dengan si dua karakter utama beranjak dewasa dan melanjutkan nyanyian lagu yang sama sampai mereka menikah dan dikaruniai dua orang puteri. "A Million Dreams (Reprise)" pun dinyanyikan oleh keluarga berisi empat orang ini, setelah diceritakan bahwa P.T. Barnum harus berhenti bekerja karena perusahaan kargo tempat dia kerja bangkrut karena kapal-kapalnya tenggelam di Laut Cina Selatan.

Salah satu karakter Michelle Williams yang likeable adalah perannya sebagai Charity di film ini.
Foto diambil dari sini.
Karena The Greatest Showman ini merupakan film yang diangkat dari kisah kehidupan P.T. Barnum asli di abad ke 19, jadi ya penonton nerima-nerima aja ketika Barnum berupaya minjem kredit ke bank dengan menggunakan akta-akta dari kapal-kapal perusahaan tempat dia kerja (tanpa izin, tentunya) dan banknya pun nerima aja tanpa ada proses due dilligence yang jelas dan dipenjiman sampai USD10.000 pula. Kalau disesuaikan dengan inflasi tuh dari yang senilai USD10.000 di tahun 1840 nilainya bisa jadi sekitaran USD 270.000 alias IDR3.600.000.000* atau tiga koma enam milyar rupiah!

Lalu uang itu dipakai buat apa? Buat beli museum. Museum yang awalnya bernama Scudder's American Museum dibeli dan diubah jadi Barnum American Museum. Isi museumnya sendiri berisi display binatang, patung lilin, alat-alat penelitian, sampai teater -- tapi yang bikin unik malah bagian yang isinya ngebahas tahayul-tahayul dan dilengkapi sama gambarannya juga. Kalau jaman sekarang, mungkin serupa kayak Museum Ripley's Believe It or Not! gitu lah. Kenapa dia harus sampai beli museum? Kenapa gak nyewa gedung aja? Kenapa museumnya spesifik yang Scudder itu? Kenapa dia gak konsultasi sama istrinya sebelum beli museumnya? Kenapa istrinya gak marah kenapa Barnum beli museum tanpa konsultasi ke dia dulu? Kenapa istrinya Barnum kok suportif amat sampai-sampai taraf yang agak gak sehat gitu? Ya itulah beberapa pertanyaan yang tidak terjawab ketika nonton awal mula berdirinya pertunjukan sirkus di dalam Barnum American Museum dan terciptanya Barnum Circus yang menonjol setelah terciptanya satu laskar pemain sirkus.

Gambaran gedung asli Barnum's American Museum pada zamannya.
Gambar diambil dari sini.
Terinspirasi dari saran anaknya ketika anaknya mengkritik bahwasanya museumnya "terlalu mati, gak ada benda hidupnya" akhirnya P.T. Barnum memutuskan untuk 'mempertunjukan orang' yang mmiliki karakteristik fisik yang tidak lazim. Dimulai dari perempuan berjenggot, pemeran prajurit yang memiliki dwarfism, dua orang kembar siam, sepasang akrobat kakak-beradik, pria dengan berat badan jauh diatas rata-rata, pria dengan tinggi badan jauh diatas rata-rata dan 'manusia aneh' lainnya termasuk orang-orang berkulit hitam yang pada zaman itu di Amerika Serikat dipandang lebih rendah dari kaum kulit putih. Kritik sosial ini merupakan salah satu pelajaran penting dari The Greatest Showman bahwa perbedaan fisik itu tidak menentukan nilai seseorang di masyarakat dan pandangan-pandangan seperti itu tuh sudah seharusnya menjadi obsolete.

Foto diambil dari sini.
Anggota terakhir yang menjadi pelengkap sirkus ini adalah Phillip Carlyle yang diperankan oleh Zac Efron. Phillip Carlyle ini sendiri adalah sosialita anak orang kaya yang hobi bikin pertunjukan teater atau playwright yang walaupun ia akui kualitasnya biasa aja tapi selalu berhasil menggaet penonton karena koneksi yang dimiliki keluarga Carlyle. Setelah dibujuk lama sama Barnum sambil nyanyi-nyanyi 'The Other Side", akhirnya Phillip setuju untuk bergabung di Barnum Circus. Dengan bantuan Phillip, sirkus ini terus berkembang sampai-sampai diundang ke Kerajaan Inggris dan dijamu oleh Ratu Victoria. Disini Barnum ketemu penyanyi yang terkenal seantero Eropa bernama Jenny Lind yang diperankan oleh Rebecca Ferguson. Suaranya Lind ini bagus banget sampai penonton di bioskop juga ikutan terkesima. Saking bagusnya Barnum pun ngundang dia ke Amerika Serikat untuk bikin U.S. Tour.

Adegan akrobatiknya Anne Wheeler dan chemistry-nya dengan Carlyle.
Foto diambil dari sini.

Pelan-pelan Barnum semakin berubah, keluarganya dinomorduakan dan urusan sirkusnya dinomortigakan. Di antara adegan-adegan ini lagu terbaik di film ini ("This Is Me") dilantunkan oleh para anggota sirkus, dan Phillip Carlyle dan Anne Wheeler, si akrobat yang diperankan oleh Zendaya semakin dekat dan menyanyikan lagu "Rewrite The Stars" di atas tali akrobat yang stunt-nya keren banget dan visualnya sendiri bagus banget. Adegan nyanyi "Rewrite the Stars" itu jadi adegan favorit aku pribadi di film ini. Selagi Carlyle dan tim aksi sirkus terus aktif di Barnum Circus, si Barnum sibuk ngurusin Lind yang notabene adalah seorang penyanyi papan atas yang bikin pamornya sendiri naik di kalangan atas, Barnum Circus terus berjalan walaupun tekanan dari rakyat sekitar makin banyak. Sebagian orang menganggap orang-orang aneh ini harusnya gak usah tampil bahkan muncul di muka umum, karena dianggap aneh, mengganggu bahkan dianggap sebagai penyakit yang menular. Keributan pun terjadi di area sirkus.

Lind di salah satu pertunjukan terakhirnya.
Foto diambil dari sini.
Di saat yang bersamaan Lind sama Barnum juga berantem dan Lind memutuskan kontrak secara sepihak karena sakit hati ngerasa di PHP-in Barnum. She tried to kiss a married man! Untungnya Barnum tidak terlena dan memutuskan pulang. Ketika Barnum pulang dengan harapan sirkusnya masih berdiri tegak, keributan yang terjadi di gedung Barnum Circus pun berubah menjadi peristiwa kebakaran gara-gara ada pengunjuk rasa yang mecahin lampu pijar dan jatuh ke kain. Yak, gedung Barnum Circus pun terbakar habis, saudara-saudara. Barnum kehilangan segalanya, termasuk keluarganya yang minggat setelah kejadian itu (didukung oleh skandal percintaan Lind dan Barnum selama tur).

Akhirnya sih semua baik-baik aja setelah Barnum ngidein bahwa Barnum Circus gak butuh gedung, cukup tenda portabel aja untuk dibawa tur keliling. Carlyle pun yang tadinya hanya sekedar konsultan sirkus 'diangkat' menjadi rekan bisnis 50/50 dan sebagai pemodal utama pendirian ulang Barnum Circus. Inti ceritanya sih kurang lebih begitu, dengan keseluruhan film ditutup dengan penampilan lagu "The Greatest Show". P.T. Barnum dan keluarga, beserta keluarga sirkusnya hidup bahagia. Selesai.

Ceritanya sendiri menarik dan cukup kompleks, banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Sayangnya, selain dengan karakter Phillip Carlyle, gak ada perkembangan karakter yang signifikan. Bahkan karakter P.T. Barnum di klimaksnya nggak ada perubahan yang berarti. Secara visual juga, aku merasa ada bagian-bagian dimana efek visualnya keliatan boongnya dan gak ada yang bener-bener bikin ngerasa "wow" dan excited gitu. Aku pribadi ngasih The Greatest Showman nilai 7/10.  Kalau Bunda malah lebih suka The Greatest Showman dibandingingin sama La La Land. Balik ke selera masing-masing aja.

Dan, tokoh asli P.T. Barnum sendiri adalah tokoh kontroversial karena banyak tudingan rasisme, ableism, serta tindakan perbudakan dan obyektifikasi yang dia lakukan terhadap anggota sirkusnya. Film ini bisa jadi think piece yang baik sih, untuk memulai diskusi tentang kesetaraan dalam kehidupan manusia. Beberapa artikel menarik tentang tokoh utama yang di-feature di The Greates Showman bisa dilihat di situs The New Yorker, Bustle, dan Paste Magazine. Lihat juga di channel Youtube Alex Berman untuk perspektif Barnum yang berbeda dan diambil dari segi yang positif.

Poster film internasional The Greatest Showman yang terpampang di 21 Cineplex. 
Menurutku pribadi, poster ini paling gak menarik dibandingin poster-poster promosi film lainnya.

Foto diambil dari sini.
Lihat poster versi lainnya disini.

Produksi: 20th Century Fox
Sutradara: Michael Gracey
Penulis: Jenny Bicks, Bill Condon
Genre: Drama, musikal
Durasi: 105 menit
Klasifikasi: Remaja 13+

*hitungan berdasarkan Inflation Calculator dari in2013dollars.com.